Flowbench

Dulu mengorek lubang isap dan buang hanya berdasarkan kira-kira. Meski diukur menggunakan sigmat, tetap saja dibilang kira-kira. Berbeda dengan sekarang, hasil korek lubang isap dan buang bisa diukur. Menggunakan flowbench untuk mengetahui debit atau aliran gas bakar di lubang isap dan buang.

Satuan pengukuran flowbench ada yang disebut cfm atau cubic feet per minute.  Atau aliran gas bakar dalam volume/menit. Dengan menggunakan flowbench, mekanik bisa membuat porting yang sama antar mesin yang satu dengan yang lain. Sehingga mempermudah dalam korek mesin.

Yang pertama kali punya flowbench pihak MBG asal Jogja. Bengkel yang dulunya konsen untuk drag mobil itu paling pertama saya kunjungi untuk mengerti flowbench. Sekitar tahun 2004 lalu, mereknya Superflow, ketika itu saya dikasih penjelasan penggunaannya secara singkat. Bahkan dikasih copyan buku penggunaannya, disana dijelaskan cara mengorek secara singkat dan jelas. Berikut pengukran-pengukuran.

Sejak 4-tak ramai di balap motor nasional, MBG kemudian dimanfaatkan oleh mekanik motor. Makanya di Jogja banyak motor yang kencang sejak eranya Dony Tata Pradita balap pakai bebek. Salah satunya Om Gandhoel, mekanik GRM yang ikut mengantarkan Dony Tata di kancah balap nasional.

Ketika itu, motor Dony memang cukup melejit. Bisa menyaingi Yamaha Jupiter-Z pacuan Hokky Krisdianto yang katanya dibikin di Swedia. Namun Dony termasuk prematur, karir di bebek hanya sebentar dan diambil untuk promo Yamaha di motor gede termasuk di GP 250. Korekan Om Gandhoel seperti hilang ditelan bumi. Padahal jasanya lumayan besar.

Khusus untuk flowbench motor, pihak BRT yang pertama kali bicara . Ketika Tomy Huang yang bos BRT mendatangkan dari Australia versi mininya. Kemudian sekarang BRT sudah punya flowbench yang paling tinggi tingkatannya. Di dalamnya terdapat 8 motor atau dinamo yang bisa membuat aliran gasnya konstan.

Pihak BRT kini pede memproduksi head klep besar yang sudah diporting, karena punya bekal flowbench yang canggih. Kini tim-tim besar banyak yang order di BRT. Balap jadi enak karena tidak perlu korek head, sudah tinggal plug and play dijamin cfm sama. Misalkan untuk klep 26/23, pihak BRT kasih 96 cfm. Untuk klep 28 dikasih 105-110 cfm.

Menyusul di Bandung H. Work Sutrisno punya juga flowbench merek Superflow. Work memanfaatkan flowbench untuk memproduksi knalpot AHRS.

Setelah itu pihak Yamaha Racing Indonesia juga punya. Juga bagian racing Astra Honda Motor. Semakin banyak lagi flowbench di Indonesia.

Head sedang diukur cfm-nya

Perihal aongmotorplus
Saya reporter di media motor, tepatnya MOTOR Plus dari Kompas Gramedia Group

2 Responses to Flowbench

  1. mochyuga mengatakan:

    bro aong, kalo hitung CFM bisa dilakukan dengan simulasi lewat rumus ga ? kan kalo hitung CFM dalam aplikasi pendingin/ventilasi ruangan kan rumusnya = kecepatan udara (kaki per menit) X luas (meter persegi), nah yg dimaksud kecepatan udara tuh sama dengan gas speed ga kalo aplikasinya di portingan head silinder ? sama ga sih CFM yg dimaksud dgn CFM yg biasa dihitung pake flowbench ?

    mohon pencerahannya, thanks🙂

    • aongmotorplus mengatakan:

      Bisa bro. Di bukut korek skubek saya tulis. Tapi kalo hanya berdasarkan besarnya diamater lubang isap dan buang. Kalau rilnya bisa berbeda. Karena bentuk lubang bentuknya tidak selalu bulat. Apalagi di dalam lubang porting ada bos klep dan batang klep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: